Baru hari ini aku sempat untuk melanjutkan kembali tulisanku tentang ITP ini, selain tidak punya waktu yang banyak untuk nulis rasa malas juga turut mempengaruhi.
Sejak divonis menderita ITP suami jadi sangat berhati-hati untuk melakukan kegiatan apapun untuk makanpun suamiku selalu wanti2 agar tidak telat jadwal makannya dan jadwal minum obatnya dan alhasil suamiku dalam waktu yang singkat menjadi sangat gemuk dengan wajah yang bulat seperti bulan (moon face) persis yang dijelaskan oleh dokter. Selain wajahnya yang makin bulat, kulit suamiku pun sedikit demi sedikit penuh dengan jerawat di sana- sini, diikuti dengan timbulnya jamur di sekitar wilayah yang lembab seperti belakang telinga, punggung, jidat dll.
Waktu kontrol dua minggu sekali ke rumah sakit pondok indah sungguh hal yang sangat memberatkan buat kami selain biaya kontrol yang mahal ongkos pulang pergi dari rumah ke RS pun lumayan, belum lagi suamiku harus cek trombosit dan leukosit setiap kali akan kontrol dan setiap kontrolpun kami perlu makan malam di luar dikarenakan jadwal dokter Noerwati di RSPI malam hari dari pukul 7.00 – 10 malam. Alhalsil dalam satu bulan bisa menghabiskan uang 1 juta rupiah. Mungkin hal yang memberatkan ini bisa menjadi ringan kalau saja suamiku mendapat uang penggatian berobat dari kantornya, namun sayang hal itu tidak ada di kantor suamiku.
Pernah suatu waktu dr. Noerwati bertanya kepada suamiku, apakah mau dibuatkan kuitansi penggantian untuk kantor, dengan tersenyum lebar suami menjawab, ndak perlu dok, karena ndak ada yang gantiin juga. Dengan spontan dr. Noerwati menjawab, loh gimana toh, le, kamu mesti berjuang dong untuk minta diganti uang berobat kamu ke kantor. Masa orang kerja ndak ada uang penggatian biaya berobat. Dengan logat Jawa pula suamiku menjawab, ndak lah dok, isin aku. Ya wis Son kata dr. Noerwati, kamu nanti kalau mau berobat sms aja dulu ke saya. Atau kamu ngak perlu ke rumah sakit cukup sms aja jumlah trombosit dan leukositmu ke saya biar konsultasinya per sms atau per telpon biar lebih murah. Atau kamu berobat aja ke Darmais ya tempat saya dinas tiap pagi. Di sana lebih murah disbanding RSPI.
Sejak saat itu suamiku selalu memberikan laporan kepada dr. Noerwati melalui telp ataupun sms dan kalau dalam keadaan yang sangat kuatir karena kondisi tubuh yang tak menentu alias lelah yang sangat berkepanjangan ataupun pendarahan di dubur entah karena ambeinnya yang kambuh atau memang karena trombositnya yang drop, biasanya dr. Noerwati selalu mengajak ketemuan di UGD di sana kami melakukan konsultasi di meja informasi, di situ dr. Noerwati akan memberikan resep obat tanpa mencharge sepesrpun kepada kami, dan hal ini yang membuat para suster yang tugas saat itu terbengong-bengong. Dengan santai dr.Noerwati memberitahu kepada mereka, itu ponakanku.
Genap 1 tahun suamiku menderita ITP, suatu hari suami terserang gejala demam berdarah, awalnya seperti biasanya penderita demam berdarh sipenderita selalu mengalami panas tinggi dan demam atau menggigil ketika obat yang diminumnya telah habis masa kerjanya. Akhirnya kamipun memutuskan untuk kontrol ke dokter terdekat dengan hasil test widal yang positif dokter menyarankan aku untuk membawa suamiku di rawat inap. Kamipun membawa suami ke RSPI dan di sana suamiku dirawat pertama kali di ruang UGD dengan diberi panadol dan cairan infus panas suhu tubuh suamiku lama kelamaan berkurang yang ada suamiku mengalami kedinginan akibat ruangan UGD yang ber AC. Tak lama kemudian suamiku mendapat kamar di kamar yang sama ketika suamiku dirawat pertama kali di RSPI ketika dia divonis menderita ITP. Karena masih setahun perawat-perawat di kamar kelas tigapun juga belum banyak yang berubah dan kebanyakan dari mereka masih mengenal wajah suamiku.
Namun kali ini suamiku tidak lagi dipegang oleh dr, Noerwati ataupun dr, Aulia yang pertama kali menangani suamiku, dikarena kedua dokter tersebut sedang menjalani umroh akhirnya kami ditawari seorang dr. Penyakit dalam yaitu dr. Leo. Hal yang kami kuatiri jika tidak dipegang oleh dr. Selain dr. Neorwati dan Aulia terjadi, dimana dr. Leo yang tidak mengetahui riwayat penyakit suamiku tidak begitu aware dengan penjelasan yang kami berikan, bahwa suamiku adalah penderita ITP, dimana jumlah trombositnya tidak seperti orang normal yang melebihi angka 150 ribu, sementara trombosit suamiku paling tinggi hanya 80 ribu dan posisi drop 10 ribu.
Satu sampai dua hari suamiku mendapat infus kondisinya semakin membaik, namun karena suamiku ITP maka treatment penderita demam berdarah jadi tidak akan berlaku buat suamiku. Jika penderita demam berdarah hanya diberi cairan saja trombositnya lama kelamaan akan meningkat sementara beda dengan suamiku yang menderita ITP meskipun infus habis berbotol-botol trombositnya tidak akan mengalami kenaikan yang berarti, kami akhirnya mencoba untuk aktif memberitahukan kepada pihak rumah sakit bahwa kami perlu seorang ahli penyakit tropikal (yang dimaksud di sini adalah ahli dalam penyakit di daerah tropikal seperti Indonesia, yaitu demam berdarah, malaria dll) kami coba konsultasi dengan dr. tersebut. Aku lupa nama dr. tersebut. Karena dr. Tersebut paham akan penyakit yang diderita oleh suamiku maka dr. Tersebut memberikan suamiku suntikan prednison untuk menaikan trombosit suamiku. Dan hasilnya tombosit suamiku naik menjadi 200 ribuan dan esokan harinya ketika dr. Leo berkunjung melihat hasil trombosit suamiku aku dan suami meminta dr. Untuk mengijinkan suamiku pulang.
Masih mengenai penyakit ITP suamiku, setelah keluar dari rumah sakit akibat demam berdarah kami bertemu dengan salah satu teman di kantor suamiku yang juga teman saat aku masih bekerja di kantor trading tempat aku bekerja dulu. Dia seorang mantan pilot berkebangsaan Prancis yang berdarah Manado, Mr. Paul Najoan, beliau memperkenalkan kepada kami pengobatan tusuk jarum dan menurutnya pengobatan itu sangat ampuh dan cocok buat kakaknya yang menjalani pengobatan itu namun sebaliknya bagi dia tusuk jarum itu sangat tidak mengenakan sehingga dia tidak mau melakukan pengobatan itu lagi. Kamipun tertarik untuk melakukan terapi tusuk jarum tersebut. Terapi itu dia lakukan seminggu dua kali sehingga dia harus ijin datang siang ke kantor setiap hari Rabu sementara hari Sabtu berhubung suamiku libur maka tidak perlu ijin. Meskipun terhitung mahal untuk biaya tusuk jarum pada waktu itu sekitar Rp 50.000 setiap kali tusuk dan setiap helai jarum suamiku harus membayar 1000 rupiah yang kemudian akan dipakai lagi ketika terapi kembali.
Merasa cocok dengan terapi tusuk jarum suamiku juga kelihatan ada kemajuan, dia tidak lagi lesu tapi sekarang malah setiap pagi selalu melakukan jalan pagi selama 1 jam untuk melatih daya tahan tubuhnya. Selanjutnya suamiku malah berencana untuk memulai kehidupannya seperti orang normal kembali, dia tidak lagi mau terkungkung dengan penyakitnya dan diapun memutuskan untuk melepaskan ketergantungannya dengan obat untuk bisa mengurangi efek samping dari prednison yang sudah di konsumsinya hampir 2 tahun.
Meskipun suamiku menjalankan terapi tusuk jarum dia masih tetap rutin mengecek jumlah trombosit dan leukosit untuk dilaporkan kepada dr. Noerwati dan hingga satu saat suamiku menginformasikan kepada dr. Noerwati bahwa dia telah lepas dari obat dewa, prednison dan syukur alhamdullilah dengan trombosit rendah sampai dengan 35,000 – 50,000 suami tidak pernah mengalami pendarahan, sehingga dr. Noerwati berani mengatakan bahwa suamiku dinyatakan telah sembuh. Namunpun demikian dr. Noerwati tetap menyarakan suamiku untuk jangan lupa mengontrol jumlah trombositnya agar tidak sampai kecolongan alias drop hingga titik terendah yang dapat menyebabkan pendaran dimana-mana.
Alhamdullilah suamiku sekarang meskipun masih menyandang penderita ITP dengan jumlah tombosit tidak lebih dari 80 ribu dia sudah dapat hidup seperti orang normal, bisa kembali bersepedah motor mengantarkan aku pergi ke kantor, bolak-balik dengan motor untuk pekerjaan-pekerjaannya. Meskipun ada satu masa ketika trombositnya drop sampai 30 ribu, suamiku tetap merasakan nyeri-nyeri pada persendian, jamur yang selalu menyerang saat situasi ini datang dan merasakan kelelahan yang amat sangat, tapi paling tidak suamiku telah mampu menjadikan penyakitnya sebagai teman setianya yang ketika datang dia harus dengan setia menghadapinya.
Dan akupun sebagai seorang istri merasa bersyukur dapat melalui masa-masa sulit selama 4 tahun bersama suami dan anakku. Dan saatnya buat kami menikmati masa-masa kini dengan kebersamaan, keceriaan dan keikhlasan, seperti ilmu yang saat ini sedang kami pelajari.

33 tanggapan so far ↓
arif f // November 3, 2008 pada 9:13 am |
assalamu’alaikuw warohmatullaahi wabarakatuh..
Saya arif , saya berdomisili di malang, Saya juga penderita ITP sudah hampir satu tahun ini.
awalnya saya terkena penyakit kanker non seminoma stadium III, karena talah terjadi metastasis, kemudian dokter memutuskan untuk melakukan kemoterapi sebelum operasi, sehingga saha dikemoterapi 3 sessi selama bulan Juli 07 sampai september 07. dan oktober 07 awal saya dioperasi kanker, kemudian setelah itu saya menjalani kemoterapi selama tiga sessi lagi dari oktober sampai desember 07. dan masa-masa akhir kemoterapi itulah saya ketahuan terkena itp bu.. kiranya penyebab apa selama ini yang membuat suami ibu terserang itp. karena saya sendiri ngga tahu penyebab itp itu sendiri dari mana, karena dokter juga sulit menjelaskan..
kira kira ada forum ngga yang sama-sama kita bisa curhat tentang ITP, karena banyak hal yang dipengaruhi ITP bagi kita, kondisi fisik yang menurun tentunya akan mempengaruhi performance pekerjaan kita, yang mau ngga mau menyulitkan dunia pekerjaan kita, seperti yang saya alami, saya sudah hampir dikeluarkan dari pekerjaan saya karena performance kerja yang mulai menurun terkait dengan penurunan kemampuan fisik saya bu.
waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..
lenahasyim // November 4, 2008 pada 8:35 am |
Waalaikum salam Wr Wb.
Ketika suami saya dinyatakan terkena ITP dokter bilang bisa jadi karena penggunaan antibiotik dalam jangka waktu yang lama dan sering. Dan memang sejak suami saya masih sekolah SD dan kuliah dia pernah mengkonsumsi antibiotik dalam jangka waktu yang sangat panjang karena terserang satu penyakit yang setelah didiagnosa ternyata disebabkan oleh faktor X (tidak diketahui penyebabnya).
Namun ada juga keponkan dari dokter ahli kandungan saya yang terkena ITP karena sering menggunakan cat pewarna rambut. Dan sering kali dokter bilang kalau penyakit ITP itu tidak diketahui penyebabnya.
Kalau forum untuk penderita ITP di Indonesia saya kira tidak ada tapi dulu ketika suami saya masih menjadi orang kantoran dia ikut komunitas ITP dunia mereka sharing tentang pengalaman mereka dan pengobatan yang mereka jalani namun karena sekarang suami saya sudah mengundurkan diri dari kantornya yang lama dan dia tidak lagi berinteraksi.
Untuk informasi mengenai penyakit ITP sejauh ini hampir tidak pernah menemukannya dan semuanya dalam bahasa Inggris makanya saya sebetulnya berkeinginan untuk membuat komunitas atau apalah untuk bisa berbagi, tapi sayangnya waktu saya sendiri sangat terbatas untuk pekerjaan kantor dan pekerjaan ibu rumah tangga sehingga sering kali saya tidak punya waktu untuk menterjemahkan informasi2 tersebut untuk saya taruh dalam blog ini.
Yang mas Arif alami itu juga dialami oleh suami saya dulu dia juga sering sekali tidak masuk kantor karena dia seringkali merasa lelah dan demam akibat ITP yang dideritanya. Karena seringnya tidak masuk akhirnya saya dan suami memutuskan untuk suami saya berhenti bekerja dan memulai untuk usaha sendiri, dengan modal sedikit yang kita punya.
Tapi mungkin kondisi yang kami alami belum tentu bisa diterapkan oleh orang lain atau mas Arief sendiri karena pertimbangan2 lain tentunya. Tapi mungkin yang bisa kami sarankan adalah mungkin mas mulai lakukan olah raga jalan pagi tahap demi tahap untuk meningkatkan daya tahan tubuh mas Arief agar bisa sedikitnya melakukan maitanance untuk tubuh dan dilatih menjadi sedikit kuat sehingga mudah2an performance kerja mas Arief bisa lebih baik dari sekarang. (Yang paling penting juga, mas Arief harus ikhlas menerima penyakit tersebut dengan sambil berusaha dengan pengobatan biar jangan terlalu terbebani). Ini yang selalu saya motivasi ke suami saya dan alhamdulliah suami saya bisa terima.
Ok mas selamat mencoba (kalau perlu teman untuk berbagi saya dan suami saya bisa di email (lena.hasyim@gmail.com atau sonny_guritno@yahoo.com
arif f // November 7, 2008 pada 1:21 am |
Assalamu’alaikum wr. wb.
Terima kasih Mbak Lena atas sarannya.
Selama ini saya uda mulai mencoba olahraga pagi kalau ngga jalan-jalan keliling kampung ya sekali-kali saya melakukan lari-lari kecil di stadion.
tapi itu kalau saya tidak masuk kerja pagi, karena selama ini saya bekerja di perusahaan fast food yang kerjanya masuk shift.restaurant
alhamdulillah selama ini ini hasil lab trombosit saya masih bagus, 2 minggu kemarin trombosit saya 93.000 dan sekarang turun 83.000 itu karena konsumsi saya untuk prednison dikurangi 1/2 tblt per 2 hari. sebab pada awal september 2008 saya sempat opname lagi ke rs karena trombosit drop sampai 1000. sehingga setelah itu saya diresepkan dokter untuk komsumsi azathiophrin 2×1 sehari dan prednison 3×4 perhari. ya akhirnya bengkak banget muka saya mbak. tapi secara fisik saya masih kuat bekerja mbak dan merasa normal normal aja. dan saya masih pakai motor kemana-mana, mulai ngantar jemput anak sekolah tiap hari kalau pas libur atau pas masuk siang atau malam.
iya mbak setelah diingat-ingat oleh istri saya dan membaca beberapa literatur ternyata kemungkinan penyebab itp saya adalah adalah efek dari kemoterapi berkepanjangan yang pernah saya alami itu mbak. saya menjalani kemotherapi selama enam bulan mbak, dari bulan juni 07 sampai desember akhir 07. ada satu obat dari kemoterapi tersebut yang dapat mencetuskan itp itu sepertinya mbak.
yang saya khawatirkan sekarang adalah ketergantungan saya terhadap obat sperti prednison itu mbak dan tentunya efek-efeknya dari prednison itu sendiri.
adakah obat alternatif untuk itp ini mbak?
terima kasih
wassalamu’alaikum wr.wb.
lenahasyim // November 17, 2008 pada 8:26 am |
Dear mas Arif
ada komentar masuk dari mbak Masyita penderita ITP.
bahwa dia memakan ANGCHO ( Sejenis Kurma Cina ) yang bisa beli di Toko Obat Cina dengan harga 1 kg 55 rb, setelah 1 bulan beliau mengkansumsi buah tersebut trombonya naik dari 17 rb menjadi 71 rb.
kalau ingin info yang lebih lengkap bisa menghubungi beliau di Shiracelena@yahoo.co.id atau di 085731996344
Mungkin ini patut di coba.
arif f // November 25, 2008 pada 12:19 am |
Assalamu’alaikum wr. wb.
Terima kasih informasinya mbak Lena..
Saya juga pernah menkomsumsi Angcho beberapa saat, tapi saat itu pengobatan dari dokter masih sangat intensif, jadi masih belum ketahuan hasilnya. tapi mungkin saya akan sharing dengan mbak Masyita mengenai takaran dari angcho tersebut, berapa biji yang direbus, berapa banyak air dan diminum berapa kali, itu yang mungkin akan saya tanyakan mbak. sekali lagi terima kasih infonya mbak ya..
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Masyita Dian // November 26, 2008 pada 7:25 am |
Untuk angchonya sekali rebus satu genggam tangan. airnya diminum dan buahnya langsung dimakan… saya baru mencoba sehari sekali dan bulan ini saya naikkan menjadi sehari dua kali makan angcho…
arif f // November 29, 2008 pada 9:46 am |
terima kasih infonya ya mbak masyita…
selama beberapa hari ini saya coba rebus angcho 15 biji perhari dan buahnya langsung saya makan..
semoga trombosit seya terus naik ya…
terakhir trombosit saya masih 36.000.
n-Ry // Desember 16, 2008 pada 3:41 pm |
Saya baru tau ada penyakit yg namanya ITP dr tmn kuliah saya yg jg penderita ITP.
Pantesan aja bibir tmn saya itu suka mjd merah2..gusi bdarah..
tmn saya itu jg pernah msk RS.
Liat fotony pas msk RS bikin saya sedih.
tersiksa sekali.
semoga tmn saya tdk kambuh lg n sehat2 sllu.
smoga suami ibu jg sehat2 sllu.
Anas Amrullah // Desember 17, 2008 pada 6:23 am |
Ass.Wr.Wb.
Mbak Lena dan Mas Sony yg terhormat, menarik sekali membaca artikel dan pengalaman yang di alami oleh mbak Lena dan mas Sony soal ITP. Saat ini saya sedang mencari informasi yang banyak soal penyakit tersebut, anaknya teman saya (ibunda laras), namanya Laras dan usianya 5 tahun (anak yatim piatu, ibundanya meninggal dalam usia 24 th karena kanker hati, ayahnya saat tidak diketahui keberadaannya), di vonis oleh dokter menderita ITP, dari hasil konsultasi dengan bibi dari Laras, Laras harus mengkonsumsi obat “Medrol” 4 mg, dan ini harus dikonsumsi selama 5 tahun. Biaya untuk mengobati Laras pastinya tidak sedikit, dengan kondisi keluarganya yang sangat memprihatinkan saya tidak terlalu yakin Laras bisa terawat dengan baik. Yang ingin saya tanyakan ke mbak Lena dan Sony, kira-kira ada alternative lain untuk pengobatan penyakit ITP ini. Oh ya saat ini Laras sedang di rawat di RS Sadikin Bandung, dan trombositnya 18.500, apa caranya menaikkan trombosit penderita ITP, berdasarkan pengalaman mbak Lena dan mas Sony?
Trims ya mbak Lena dan mas Sony atas informasinya, semoga mbak Lena dan mas Sony tetap diberi kesehatan oleh Allah SWT.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Anas Amrullah
anas.amrullah@yahoo.com
Egie Siti Aminah // Desember 22, 2008 pada 8:03 am |
Ass Wr Wb..
Nama saya Egie. Saat ini saya sedang mencari informasi tentang ITP karena suami saya saat ini sedang dirawat di RS dan divonis suspect ITP. Hari ini suami saya sedang menjalankan BMP untuk mengkonfirmasi bahwa memang dia positif ITP. Trombosit dari awal tes darah (13 Dec 08) sampai dengan hari ini start dari 20rb dan posisi terendah adalah 8rb. Kalau boleh tahu dari pengalaman ibu Lena mengenai pengobatan alternatif untuk suami ibu yaitu tusuk jarum, saya boleh mendapatkan alamat dan nomor telfonnya bu? Terima kasih banyak atas informasinya. Wassalam, Egie
lenahasyim // Desember 22, 2008 pada 9:11 am |
Dear mbak Egie,
Suami saya Akupuntur di tempat klinik Akupuntur Sido Muncul, alamatnya di Cipete 8 no.82 Jakarta Selatan no. tlp.75904940
Yang biasa tangani pasien di sana adalah Pak Gunawan & dr. Maya. Hari praktek Senin – Sabtu jam 9 – 4 sore.
Pak Gun dan dr. Maya biasanya sering berdiskusi dengan pasiennya jadi disampaikan saja apa keluhan2nya. Pak Gun dan dr Maya lebih kenal dengan suami saya Sonny penderita ITP
Selamat mencoba & semoga diberikan kesembuhan dan kesehatan.
Shiracelena@yahoo.co.id // Desember 27, 2008 pada 1:42 pm |
Shiracelena@yahoo.co.id
lenahasyim // Desember 31, 2008 pada 5:09 am |
Syukur Alhamdullilah mbak putranya lahir dengan selamat dengan persalinan normal. Selamat ya dan Semoga ibu dan bayinya sehat selalu. Amin.
Egie Siti Aminah // Desember 30, 2008 pada 1:36 am |
Mba Lena, terima kasih atas informasinya. Saya akan coba bawa suami saya kesana. Sekarang suami saya sudah pulang ke rumah dan diberikan obat oral untuk dikonsumsi. Suami saya sangat sangat merasa tidak nyaman dengan efek samping dari obat2an tersebut, jantung berdebar2, keringat berlebihan padahal dia tidak kepanasan, sakit persendian, lemas, lapar terus. Rasanya dia pengen sekali berhenti minum obat2an tersebut. Kira2 apa ya efek sampingnya kalau obat2an tsb langsung dihentikan?
Thanks,
Egie
anita // Januari 17, 2009 pada 5:41 pm |
Ass Wr Wb,
Saya Anita. saya baru tahu ada penyakit syerem sperti ini. Kalau boleh tahu gejala yang paling terlihat dari penderita ITP (selain dengan cek darah scara kontinyu) apa ya?Informasi yg saya dapat dari tabloid soal ITP, beberapa gejalanya adalah rentan terhadap luka memar, mimisan, gusi berdarah, & muncul bintik2 kecil berwarna merah d permukaan kulit. Saya kok jadi takut, karena seingat saya, gejala2 diatas kan sering banget saya alami. 6 bulan lalu saya juga sempat dirawat karena tifus & trombosit yg tiba2 drop, tapi setelah konsumsi ancho & beras merah trombosit naik, saya ga pernah cek k dokter lagi. meski sampai saat ini sering sekali demam dan lemas tanpa alasan yg jelas. Mohon infonya gejala2 yang spesifik ITP seperti apa? Terima kasih sebelumnya..& semoga ibu sekeluarga tetap dlm keadaan sehat.
Wassalam
Nanda // Januari 27, 2009 pada 6:38 am |
Dear All…
Mungkin bisa dicoba untuk pengobatan akupuntur, karena sudah terbukti ada yang sembuh… termasuk suaminya Egie…. Alhamdulillah sekali…
ini juga aku dapat alamatnya dari Handi, yang juga penderita ITP yang sudah sembuh sekarang.
Alamatnya
Accupuntur Center Darma Bakti
Jl. Mustika Permata 9 Kav.72
Setiabudi Regency, BAndung
telp. 022.2001606
DR. Sim Kie Jie
Praktek senin-jumat(rabu libur)
08.30 – 11.00
16.00 – 18.00
mungkin bagi yang jauh dari Bandung bisa konsen sebulan pengobatan agar bisa maximal.
Pengobatan menggunakan Akupuntur dan minum ramuan godogan.
Patut dicoba nie, soalnya sekali lagi sudah banyak yang sembuh, apalagi suaminya egie cepat banget sembuhnya.
apalagi pengobatannya tidak menggunakan obat2an kimia.
Selalu berdoa dan berserah pada Allah.
Salam
nuimatsu // Maret 2, 2009 pada 11:19 am |
well selain namanya ga familiar ITP, kadang2 penanganan pasien yang terkena penyakitnya juga jadi rancu ama DEmam berdarah ato leukimia. almarhum suami aku juga maret 2008 kena demam tinggi di cek ke RS muhamadiyah dan di tangani dr.Darlyaman katanya Demam berdarah dgn kadar trombosit hanya di kisaran 20.000 sampai 30.000 aja leukosit 185.0000 dan Hb 5 ampir 11 hari di RS, akhirnya pihak rumah sakit mengganti dengan Dr. yang katanya lebih ahli Dr. Soerya Soemantri dengan kondisi trombosit turun naik suami aku dinyatakan sembuh karena secara fisik sehat. keluar dari rumah sakit suami aku ga pernah sembuh total, kalo dia capek banget ato salah makan badannya jadi lebam lebam kaya abis di pukulin di tambah gusinya suka berdarah. bulan mei kondisi alm drop lagi demam lagi, karena merasa ga puas dengan Rs sebelumnya kita kontrol ke RS.kebonjati kita di tangani Dr. Hanoy dan diindikasikan ITP. karena kondisi keuangan keluarga yang saat itu sedang buruk kita hanya berobat jalan obat yang sering dia konsumsi dan disarakan dokter namanya imudator.aga mendingan siy ga terlalu drop banget kondisi fisiknya. finaly bulan oktober abis kita pulang mudik ke palembang ada beberapa organ tubuhnya yang jadi terganggu, telinganya keluar cairan seperti congek dan ternyata darah, lututnya sakit dan jadi bengkak , gusinya juga berdarah. aku bawa lagi alm untuk kontrol dan kita di referensikan ke ahli darah di RS hasan sadikin. saya juga ceritakan historikal penyakit ybs ke Dr. Indra yang menangani alm saat itu. tapi bukan ITP sakit yang di informasikan Dr. katanya leukimia akut???? ko bisa berubah terus ya keterangannnya??? seminggu berada di RS. dan dengan ending yang sangat bikin sakit hati karena tindakan yang tidak sigap. aku harus mengikhlaskan suami aku di panggil yang maha kuasa tanggal 1 November 2008 lalu. kalo ada yang lebih faham tentang perbedaan antara demam berdarah, leukimia akut dan
idiopathic thromboytopenic purpura
Evi Sukmayati // April 4, 2009 pada 2:20 pm |
Asswrwb
Mbak & Mas yang tabah dan sabar yah tetap harus optimis dan punya semangat hidup .dokter saya bilang 60 % kesembuhan adalah sugesti 40 % obat. Saya penderita ITP sudah 33 tahun dari usia 13 tahun mudahan dengan kemanjuan teknologi kedokteran penyakit ini cpt ada obatnya .
Nanda // April 6, 2009 pada 5:16 am |
Dear All,
Khususnya mas arief jika buka blog ini…
kebetulan aku juga stay di Malang, coba deh mas arief berobat di Jl.Tampomas No.26, disitu emang bukan praktek tapi dari mulut ke mulut, pengobatan tradisional cina, tapi ga pake rebus rebusan, diberi oil tp dalamnya racikan sendiri. kmrn aku konsumsi obat dari beliau selama 2 minggu, cuma 100rb sekali dateng itu dah plus obat 2minggu.
trombosit aku dari 128rb nae ke 141rb, lumayan sie yah…
kemaren baru dari sana lagi, minta obat.
orangnya dah tua banget…
dicoba aja yah… buat temen temen yang laen, yang semangat yah…
estie // April 23, 2009 pada 7:48 am |
aq mo nanya nie..
klo pengobatan akupuntur itu sembuhnya sementara apa sembuh total?
kadar trombositq skrg 35rb – 40rb..
aq mohon komentar dari temen2..
thanks bgd ya….
zaen // Mei 18, 2009 pada 5:49 pm |
Ass Wr Wb,
Saya zaen ingin menanyakan tentang ITP.Saya mempunyai anak sekarang umur 2 tahun 5 bulan,pada umur 20bulan anak saya divonis terkena ITP dan sempat dirawat 10hari,sampai tranfusi trombosit 50cc.Karena istri saya sudah terlalu stres sehingga kami minta pulang dengan kondisi anak yang sudah agak baik.Terus saya disarankan berobat keahli hematologi,akhirnya saya berobat keahli hematologi di RS HERMINA Jatinegara dengan dokter lia,dan saya hanya berobat 2x dikarenakan keterbatasan biaya dan saya hentikan pengobatannya dikarenakan saya melihat perkembangan anak saya yang kayaknya sudah baikan.Yang saya ingin tanyakan,apakah saya harus mengontrol trombosit anak saya perbulan atau gimana yang harus saya lakukan?
Soalnya saya bingung dengan biaya dan langkah2 selanjutnya.mohon penjelasannya biar saya tahu arahnya dan kekebimbangan terhadap masa depan anak saya.
Terima kasih sebelumnya
Rizki // Juni 26, 2009 pada 7:55 am |
Dear all,
Salam kenal semuanya, nama saya Rizki, umur 28 tahun. Baru sebulan ini saya didiagnos oleh dokter mengalami itp. Pertama kali saya mengalami demam dan ketika check darah hb mcapai 5.9 dan trombosit 16.000. saya dirawat selama 4 hari dan di tranfusi 4 botol darah dan 1 botol trombosit. Awalnya saya didiagnos anemia aplastis, dan dirujuk ke dokter spesialis Hematologi. ll oleh dokter ini saya dilakukan serangkaian check lab dan BMP. Ketika hasilnya sudah dapat saya didiagnos LUPUS. Keluarga kaget semua, mereka mau cari dokter laen untuk second opinion. Makanya saya cari dokter ditempat laen dan bertanya-tanya ke teman adakah referensi dokter yang bagus. Saya ke dokter itu, dan akhirnya beliau mendiagnos saya ITP. Awalnya Saya di beri obat methylpredniosolon 16 mg 2 x shari. dan hasil check darahnya bagus, malahan melebihi batas normal ( 150.000~400.000) yaitu 617.000. Setelah konsultasi terakhir senin tgl 220609, dosis obat saya diturunkan mjd 8 mg 1x shari dan saya harus balik lg dan di check darahnya 3 minggu kemudian..
Bagi saya ini suatu cobaan dari Allah SWT yang cukup berat, dimana saya juga baru saja berhenti kerja. Shari2 saya dibantu oleh keluarga saya untuk mencukupi kebutuhan saya dan anak istri. Mudah2an cobaan ini bisa saya dan keluarga saya laluin dan saya bisa bekerja dan hidup normal lagi seperti dahulu. Amiin..
Inilah pengalaman yang baru saya jalani…
Terima kasih..
rgds,
Rizki
Rizki // Juni 26, 2009 pada 8:09 am |
Dear mba nuimatsu,
Memang diagnos dokter yang satu dengan yang laen berbeda. Itu juga di alami oleh saya. Oleh dokter spesialis pertama saya didiagnos lupus, ll saya pindah ke dokter spesialis brkutnya, awalnya beliau mendiagnos saya LLA (leukimia limfoblastik akut) setelah melihat hasil BMP saya. Tp seminggu kemudian diagnosnya berubah menjadi ITP. Dan sampai sekarang aku masih minum obatnya.
Terima kasih..
rgds,
Rizki
DonyPrasetyo // Juni 29, 2009 pada 1:44 pm |
Dear All,
Iya, ayo buat komunitas penderita ITP, untuk saling sharing dan memberi semangat. aku udah 2 tahun didiagnosa sakit ITP, tapi tetap FIGHT. sesuai saran teman2, aku mencoba terapi akupuntur. setelah 2 mgg terapi, trombositku naik 21ribu dari 88ribu menjadi 109ribu. oiya aku terapi akupuntur di Surabaya di DR. JESICA TAN. orangnya praktek sangat sosial alias murah. jadi bagi yg berada di SBY dan sekitarnya, aku saranin ke sana. bareng2 aku. aku juga masih terapi.
Salam
dony
Masyita Dian // Juli 4, 2009 pada 5:54 am |
Buat Mas Dony..
Bisa minta alamat Dr. JESICA TAN nya? soalnya saya pengen nyoba ke sana. Mungkin ada nomor telpon yg bisa dihubungin juga.. kebetulan saya tinggal di Gresik…
DonyPrasetyo // Juli 12, 2009 pada 1:56 pm |
Dear all
untuk Mbak Masyita dan yg lain
bila disekitar SBY, coba terapi akupuntur di dr. Jesica Tan
Jl. Rangkah II no 1 SBY (sebelah timur Gelora 10 Nop Tambaksari Sby)
praktek tiap senin, selasa, kamis, sabtu
jam 7-11 pagi
biaya per terapi Rp 8000
pertama kali datang, beli jarum Rp 30.000
ayo tetap ikhtiar n semangat
biar Alloh yg menentukan hasilnya
salam
dony
DonyPrasetyo // Juli 21, 2009 pada 12:28 pm |
sorry buat mbak Dian
Almtnya DR. Jesica Tan yg bener :
JL. RANGKAH 4 NO 1 SBY
no telpnny, 0313710532
agnes // September 8, 2009 pada 2:17 pm |
saya agnes tinggal di pontianak,, bru dger nih ttg ITP..soalnya, mamaku slama 20 tahunan lebih..bru ketauan trombositnya hanya 28 rbu,,
tapi heranya, ma2 gk knp2,maksudnya gak capek, gak demam, cuma suka memar ajah n suka pusink,
trus tadi dokter baru blg kemungkinan suspect ITP, nah frens ad info gk pengobatan alternative lain selain akupuntur?? soalnya bru suspect,,n kata dokter sakit ITP, gk boleh smbarangan mnum obat.
agnes // September 9, 2009 pada 4:01 am |
oy, mba..ktanya untuk penderita ITP kn arus hati2 terhadap luka, nah kalo akupuntur gmn? takutnya ad pendaharan, apakah akupuntur ini yang mba n mas srankan bisa menimbulkan luka?
terima kasih sebelumnya,,
rgds..
fitri // September 15, 2009 pada 2:12 pm |
Dear all..
saya menderita ITP sudah 3 thn ..
sekarang lagi nunggu lahiran anak ke 3 mohon doanya dari semua…
salam
fitri
ela // Desember 23, 2009 pada 2:17 am |
salam kenal mba fitri..
saya juga penderita itp sudah 2 tahun. sekarang saya sedang hamil 2 bulan. mau tanya gmn ya menjaga kadar trombosit tetap stabil selama hamil. dan apa aja yang harus dilakukan selama hamil.Krn kmrn saya pernah keguguran.saya pgn tau pengalaman mba fitri. terimakasih.
Thie // November 16, 2009 pada 8:18 am |
Dear all,
Sy awal th 2009 divonis ITP, jumlah trombosit terendah 2000, ditransfusi trombosit tak membantu, akhirnya transfusi gamma globulin, sempat di BMP, alhamdulillah akhirnya jumlah trombosit normal kembali sampai sekarang, walaupun masih mengkonsumsi methilprednisolone 4 mg per hari dan Imuran (Azathioprin50 mg) 2x sehari. Kalo memang banyak yang menderita ITP di Indonesia, kenapa ga bikin komunitas nya? nanti kan biar bisa sharing, saling memberi semangat…. Gmn?
lenahasyim // Februari 20, 2009 pada 11:26 am |
Dear mba Becky,
Sorry dah lama aku ngak buka blog soalnya di kantor mau bikin event jadi ngak sempet nengok2 in blog apalagi nulis.
FYI, Aku dah baca loh tulisan ini di Indo Pos, tanggal berapa aku lupa yg pasti pas terbit aku baca artikel itu, kebetulan di kantor langganan banyak koran.
Ayo mba kita bentuk komunitas ITP biar penderita ataupun keluarganya yg concern bisa lebih kaya informasi dan juga merasa ngak sendiri. Waktu itu saya juga di kontak oleh pak siapa saya lupa, beliau dua kali komenar di blog saya dan ibu yanti yanti juga sangat setuju untuk membuat komunitas. Lebih jauhnya nanti kita email2an ya mbak.
Salam
Lena