Daily

Belajar Ilmu Ikhlas

Juli 28, 2008 · & Komentar

Saat ini aku sedang menerapkan ilmu ikhlas pada keluargaku, terutama pada diriku dan pada suamiku, hal ini dikarenakan kami tidak mempunyai pembantu yang tinggal di rumah yang bisa mengerjakan pekerjaan menyibukan di pagi hari saat anak, suami dan kita sendiri harus pergi ke kantor.

 

Rutinitas rumah tangga dan kantor membuat kita gila,  bangun tidur langsung otak kita di set untuk runtutan pekerjaan mulai dari masak air untuk membuat teh, menghangatkan makan buat sarapan pagi anggota keluarga, membereskan tempat tidur, memasakan air panas untuk mandi anggota keluarga, memandikan 2 anakku yang kecil Dio dan Ragil yang masing-masing berumur 5 tahun dan 3,5 tahun, memakaikan baju seragam sekolahnya, menyuapi sarapan mereka serta menyiapkan bekal untuk mereka bawa sekolah.  dan terakhir aku harus mendrop mereka ke sekolah.  Sementara suamiku dengan pekerjaan lainya membersihkan kandang kucing dan memberinya makan serta menyiram tanaman setiap pagi. Dan kadang-kadang suamiku juga membantu aku memandikan ke dua anakku yang kecil sampai dengan memakaian seragam sekolahnya. 

 

Tak jarang dalam mengerjakan rutinitas pekerjaan tersebut saya dan suami sering  dibuat emosi, yang membuat suasana rumah jadi panas dan kurang enak untuk melanjutkan pekerjaan selanjutkan dan tak jarang pula anak ikut terbawa emosi tersebut. Kita jadi marah-marah hingga membuat anakpun ikut terbawa rasa yang tidak menyenangkan sampai dia akan pergi ke sekolah. 

 

Selesai urusan rumah di depan ada pekerjaan kantor yang siap menghadang kita, huh, rasanya penat dan bosan setiap hari seperti itu. Hal ini seringkali membuat aku dan suami  ribut kecil karena hal yang sebenarnya sepele, dan setelah dalam keadaan yang agak rilek kita baru menyadari baru hal itu disebabkan karena kita tegang dan kurang rela untuk mengerjakannya. 

 

Kenapa saya mengatakan seperti itu, karena setelah saya renungkan dan saya jalani satu pekerjaan dengan senang hati dan kerelaan maka hasilnya pekerjaan itu menjadi baik dan memuaskan.  Akhirnya saya memutuskan untuk menyebutnya dengan keikhlasan. Dengan keikhlasan itu maka apa yang kita kerjakan akan menjadi ringan dan tanpa paksaan sehingga kita mengerjakannya dengan rasa senang, suasana  yang ditimbulkan juga akan terasa beda hasilnya.

 

Meskipun baru beberapa hari ini kita menerapkannya, saya sudah sangat menikmati hasilnya, meskipun fisik saya cape tapi pikiran saya lebih tenang.  Semoga kami bisa terus menjalaninya. Amin

 

Suamiku, Rio, Dio, Ragil dan Aku

Suamiku, Rio, Dio, Ragil dan Aku

Kategori: Cerita keluarga

2 tanggapan so far ↓

  • dewi // November 19, 2008 pada 9:27 am | Balas

    wow, mbak lena bener2 super mom.
    hmm belajar ttg ikhlas emang berat banget, mbak.
    kata Habibku, ikhlas itu adalah mengerjakan semuanya karena Allah, hopefully sooner or later i could be like that.

  • nani // Februari 2, 2009 pada 8:57 am | Balas

    ikhlasss…..sesuatu yg berat yg sampai saat ini blm juga bisa gw terapkan :(

Tinggalkan sebuah Komentar