
Suamiku dan ketiga anakku, Rio, Ragil dan Dio
Baru hari ini aku sempat untuk melanjutkan kembali tulisanku tentang ITP ini, selain tidak punya waktu yang banyak untuk nulis rasa malas juga turut mempengaruhi.
Sejak divonis menderita ITP suami jadi sangat berhati-hati untuk melakukan kegiatan apapun untuk makanpun suamiku selalu wanti2 agar tidak telat jadwal makannya dan jadwal minum obatnya dan alhasil suamiku dalam waktu yang singkat menjadi sangat gemuk dengan wajah yang bulat seperti bulan (moon face) persis yang dijelaskan oleh dokter. Selain wajahnya yang makin bulat, kulit suamiku pun sedikit demi sedikit penuh dengan jerawat di sana- sini, diikuti dengan timbulnya jamur di sekitar wilayah yang lembab seperti belakang telinga, punggung, jidat dll.
Waktu kontrol dua minggu sekali ke rumah sakit pondok indah sungguh hal yang sangat memberatkan buat kami selain biaya kontrol yang mahal ongkos pulang pergi dari rumah ke RS pun lumayan, belum lagi suamiku harus cek trombosit dan leukosit setiap kali akan kontrol dan setiap kontrolpun kami perlu makan malam di luar dikarenakan jadwal dokter Noerwati di RSPI malam hari dari pukul 7.00 – 10 malam. Alhalsil dalam satu bulan bisa menghabiskan uang 1 juta rupiah. Mungkin hal yang memberatkan ini bisa menjadi ringan kalau saja suamiku mendapat uang penggatian berobat dari kantornya, namun sayang hal itu tidak ada di kantor suamiku.
Pernah suatu waktu dr. Noerwati bertanya kepada suamiku, apakah mau dibuatkan kuitansi penggantian untuk kantor, dengan tersenyum lebar suami menjawab, ndak perlu dok, karena ndak ada yang gantiin juga. Dengan spontan dr. Noerwati menjawab, loh gimana toh, le, kamu mesti berjuang dong untuk minta diganti uang berobat kamu ke kantor. Masa orang kerja ndak ada uang penggatian biaya berobat. Dengan logat Jawa pula suamiku menjawab, ndak lah dok, isin aku. Ya wis Son kata dr. Noerwati, kamu nanti kalau mau berobat sms aja dulu ke saya. Atau kamu ngak perlu ke rumah sakit cukup sms aja jumlah trombosit dan leukositmu ke saya biar konsultasinya per sms atau per telpon biar lebih murah. Atau kamu berobat aja ke Darmais ya tempat saya dinas tiap pagi. Di sana lebih murah disbanding RSPI.
Sejak saat itu suamiku selalu memberikan laporan kepada dr. Noerwati melalui telp ataupun sms dan kalau dalam keadaan yang sangat kuatir karena kondisi tubuh yang tak menentu alias lelah yang sangat berkepanjangan ataupun pendarahan di dubur entah karena ambeinnya yang kambuh atau memang karena trombositnya yang drop, biasanya dr. Noerwati selalu mengajak ketemuan di UGD di sana kami melakukan konsultasi di meja informasi, di situ dr. Noerwati akan memberikan resep obat tanpa mencharge sepesrpun kepada kami, dan hal ini yang membuat para suster yang tugas saat itu terbengong-bengong. Dengan santai dr.Noerwati memberitahu kepada mereka, itu ponakanku.
Genap 1 tahun suamiku menderita ITP, suatu hari suami terserang gejala demam berdarah, awalnya seperti biasanya penderita demam berdarh sipenderita selalu mengalami panas tinggi dan demam atau menggigil ketika obat yang diminumnya telah habis masa kerjanya. Akhirnya kamipun memutuskan untuk kontrol ke dokter terdekat dengan hasil test widal yang positif dokter menyarankan aku untuk membawa suamiku di rawat inap. Kamipun membawa suami ke RSPI dan di sana suamiku dirawat pertama kali di ruang UGD dengan diberi panadol dan cairan infus panas suhu tubuh suamiku lama kelamaan berkurang yang ada suamiku mengalami kedinginan akibat ruangan UGD yang ber AC. Tak lama kemudian suamiku mendapat kamar di kamar yang sama ketika suamiku dirawat pertama kali di RSPI ketika dia divonis menderita ITP. Karena masih setahun perawat-perawat di kamar kelas tigapun juga belum banyak yang berubah dan kebanyakan dari mereka masih mengenal wajah suamiku.
Namun kali ini suamiku tidak lagi dipegang oleh dr, Noerwati ataupun dr, Aulia yang pertama kali menangani suamiku, dikarena kedua dokter tersebut sedang menjalani umroh akhirnya kami ditawari seorang dr. Penyakit dalam yaitu dr. Leo. Hal yang kami kuatiri jika tidak dipegang oleh dr. Selain dr. Neorwati dan Aulia terjadi, dimana dr. Leo yang tidak mengetahui riwayat penyakit suamiku tidak begitu aware dengan penjelasan yang kami berikan, bahwa suamiku adalah penderita ITP, dimana jumlah trombositnya tidak seperti orang normal yang melebihi angka 150 ribu, sementara trombosit suamiku paling tinggi hanya 80 ribu dan posisi drop 10 ribu.
Satu sampai dua hari suamiku mendapat infus kondisinya semakin membaik, namun karena suamiku ITP maka treatment penderita demam berdarah jadi tidak akan berlaku buat suamiku. Jika penderita demam berdarah hanya diberi cairan saja trombositnya lama kelamaan akan meningkat sementara beda dengan suamiku yang menderita ITP meskipun infus habis berbotol-botol trombositnya tidak akan mengalami kenaikan yang berarti, kami akhirnya mencoba untuk aktif memberitahukan kepada pihak rumah sakit bahwa kami perlu seorang ahli penyakit tropikal (yang dimaksud di sini adalah ahli dalam penyakit di daerah tropikal seperti Indonesia, yaitu demam berdarah, malaria dll) kami coba konsultasi dengan dr. tersebut. Aku lupa nama dr. tersebut. Karena dr. Tersebut paham akan penyakit yang diderita oleh suamiku maka dr. Tersebut memberikan suamiku suntikan prednison untuk menaikan trombosit suamiku. Dan hasilnya tombosit suamiku naik menjadi 200 ribuan dan esokan harinya ketika dr. Leo berkunjung melihat hasil trombosit suamiku aku dan suami meminta dr. Untuk mengijinkan suamiku pulang.
Masih mengenai penyakit ITP suamiku, setelah keluar dari rumah sakit akibat demam berdarah kami bertemu dengan salah satu teman di kantor suamiku yang juga teman saat aku masih bekerja di kantor trading tempat aku bekerja dulu. Dia seorang mantan pilot berkebangsaan Prancis yang berdarah Manado, Mr. Paul Najoan, beliau memperkenalkan kepada kami pengobatan tusuk jarum dan menurutnya pengobatan itu sangat ampuh dan cocok buat kakaknya yang menjalani pengobatan itu namun sebaliknya bagi dia tusuk jarum itu sangat tidak mengenakan sehingga dia tidak mau melakukan pengobatan itu lagi. Kamipun tertarik untuk melakukan terapi tusuk jarum tersebut. Terapi itu dia lakukan seminggu dua kali sehingga dia harus ijin datang siang ke kantor setiap hari Rabu sementara hari Sabtu berhubung suamiku libur maka tidak perlu ijin. Meskipun terhitung mahal untuk biaya tusuk jarum pada waktu itu sekitar Rp 50.000 setiap kali tusuk dan setiap helai jarum suamiku harus membayar 1000 rupiah yang kemudian akan dipakai lagi ketika terapi kembali.
Merasa cocok dengan terapi tusuk jarum suamiku juga kelihatan ada kemajuan, dia tidak lagi lesu tapi sekarang malah setiap pagi selalu melakukan jalan pagi selama 1 jam untuk melatih daya tahan tubuhnya. Selanjutnya suamiku malah berencana untuk memulai kehidupannya seperti orang normal kembali, dia tidak lagi mau terkungkung dengan penyakitnya dan diapun memutuskan untuk melepaskan ketergantungannya dengan obat untuk bisa mengurangi efek samping dari prednison yang sudah di konsumsinya hampir 2 tahun.
Meskipun suamiku menjalankan terapi tusuk jarum dia masih tetap rutin mengecek jumlah trombosit dan leukosit untuk dilaporkan kepada dr. Noerwati dan hingga satu saat suamiku menginformasikan kepada dr. Noerwati bahwa dia telah lepas dari obat dewa, prednison dan syukur alhamdullilah dengan trombosit rendah sampai dengan 35,000 – 50,000 suami tidak pernah mengalami pendarahan, sehingga dr. Noerwati berani mengatakan bahwa suamiku dinyatakan telah sembuh. Namunpun demikian dr. Noerwati tetap menyarakan suamiku untuk jangan lupa mengontrol jumlah trombositnya agar tidak sampai kecolongan alias drop hingga titik terendah yang dapat menyebabkan pendaran dimana-mana.
Alhamdullilah suamiku sekarang meskipun masih menyandang penderita ITP dengan jumlah tombosit tidak lebih dari 80 ribu dia sudah dapat hidup seperti orang normal, bisa kembali bersepedah motor mengantarkan aku pergi ke kantor, bolak-balik dengan motor untuk pekerjaan-pekerjaannya. Meskipun ada satu masa ketika trombositnya drop sampai 30 ribu, suamiku tetap merasakan nyeri-nyeri pada persendian, jamur yang selalu menyerang saat situasi ini datang dan merasakan kelelahan yang amat sangat, tapi paling tidak suamiku telah mampu menjadikan penyakitnya sebagai teman setianya yang ketika datang dia harus dengan setia menghadapinya.
Dan akupun sebagai seorang istri merasa bersyukur dapat melalui masa-masa sulit selama 4 tahun bersama suami dan anakku. Dan saatnya buat kami menikmati masa-masa kini dengan kebersamaan, keceriaan dan keikhlasan, seperti ilmu yang saat ini sedang kami pelajari.