Daily

Foto Ragil

Agustus 14, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Maaf bos hari ini, aku korupsi waktu kerjaku dengan melihat foto-foto anak-anakku. Entah kenapa hari ini aku ingin sekali melihat foto2 anak2ku.  Dan ini foto Ragil yang baru sempat aku upload

Ragil:  Ketika usiamu 40 hari.endut

 

 

 

 

 

 

Aku dengan Dio, kakakku. Selisihku dengan mas Dio hanya 1,5 tahun. Ini aku sedang di pegang oleh Engkong karena aku memang di titip mama dari pagi sampai magrib di rumah nenek sementara mama dan bapakku bekerja di kantor.

Aku dan Mas Dio

 

 

 

 

 

 

 Fotoku saat ulang tahun pertamaku.

051113_112834

 

 

 

 

 

 

Aku sekarang sudah bersekolah di Playgroup Al Ikhlas, dan ini foto di saat aku sedang menari untuk perpisahan kakak2 kelas.

Tari Mexico

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku bersama kakak2 sepupu di rumah Pakde Helmy saat ulatah ci Bunga ke 17.

CIMG1866

 

 

 

 

 

 

 

Aku di tempat Bude Hani di Maseng, Bogor.

Aku dan Mas Dio

 

 

 

 

 

 

 

Jubah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku dan Mas2 ku, sedang mencoba baju Cina yang dibelikan oleh Bude Hani dari Hongkong.

Baju Cina

 

 

 

 

 

 

2aa2ajaa55jba25j_070918_210818

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Rio dan Dua Keponakanku di Kompas

Agustus 13, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Rio dan dua keponakanku Vani dan Zia suatu hari di wawancara oleh Tante Winy, wartawan Kompas untuk artikel berjudul “Cara Belajar yang Asyik Menurutku”. Artikel lengkap dapat di baca di bawah ini.Artikel Rio_Kompas

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Dio & Frenzy

Agustus 12, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

→ Tinggalkan KomentarKategori: Cerita keluarga · Uncategorized

Sobat

Agustus 12, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sobat, pabila aku KESEPIAN hiburlah aku dengan suaraMu.

Pabila aku SAKIT obati aku dengan rasa kasih sayangMu

Pabila aku MATI jangan mandikan aku dengan air mataMu

Pabila aku TERKUBUR, kuburlah aku dalam hatiMu

Pabila aku TERSESAT, selamatkanlah aku dengan doaMu

Sobat, pabila aku KESEPIAN hiburlah aku dengan suaraMu.

Pabila aku SAKIT obati aku dengan rasa kasih sayangMu

Pabila aku MATI jangan mandikan aku dengan air mataMu

Pabila aku TERKUBUR, kuburlah aku dalam hatiMu

Pabila aku TERSESAT, selamatkanlah aku dengan doaMu

 

C-Frienship.jpg Friendship image by Jay-R080469

 

→ Tinggalkan KomentarKategori: Puisi

Our new family

November 19, 2008 · & Komentar

This morning we’ve been surprised by  a new family presence, guess what?

A new baby from Kitty and Frenzy, do you know who they are?

They are our cats; Kitty is cat woman and Frenzy is cat man.

They are living together in same cage for almost 3 months since their age was 3 months

 

Honestly my husband and I didn’t know about kitty’s pregnancy because we couldn’t see it from her body. So when we open the door and found out in their cage there was a new baby cat was crawling, and we’re all screamed happily then my husband asked my housemaid to prepare small cage with blanket to put the baby and the mother inside to feel the warm and love.  The baby cat was so cute and we give her/him name Frekit (Fenzy Kitty) Welcome to our family Frekit, we’ll take care of you sweetie.

→ 2 CommentsKategori: Uncategorized

To My Childern

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

we love each other

Anak
By. Kahlil Gibran.

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu.
Mereka adalah putra putri kerinduan kehidupan akan dirinya sendiri.
Mereka memang lahir melaluimu tetapi bukan darimu,
Dan walaupun mereka bersamamu tetapi mereka bukanlah kepunyaanmu.

Engkau dapat memberi mereka kasihmu tetapi bukan pikiranmu,
Sebab mereka memiliki pikiran mereka sendiri.

Engkau dapat memberi naungan bagi tubuh mereka tetapi bukan jiwa mereka,
Sebab jiwa mereka tinggal di rumah hari esok, yang tidak mungkin engkau kunjungi, bahkan dalam mimpimupun tidak.

Engkau boleh berusaha keras menjadi seperti mereka, tetapi janganlah berusaha menjadikan mereka sepertimu.
Sebab kehidupan tidaklah berjalan mundur atau berlambat-lambat dengan hari kemarin.

Engkau adalah busur dari mana anak-anakmu ibarat anak panah yang hidup diluncurkan.
Sang pemanah melihat sasarannya di jalan yang tak terhingga, dan Ia membengkokkanmu dengan keperkasaan-Nya agar anak-anak panah-Nya meluncur mulus dan jauh.

Bergembiralah atas kelenturanmu di tangan sang pemanah,
Sebab Ia mengasihi anak panah yang meluncur, Ia mengasihi busur yang stabil.

 

 

————————

 

Membaca puisi tersebut mambuatku tersadar bahwa mereka hanya titipan Yang Maha Pencipta yang dititipkan dirahimku hingga 9 bulan. Aku tidak bisa memilikimu meskipun aku harus mengorbankan hidupku untuk melahirkanmu karena engkau adalah milik kehidupanmu di masa depan. Aku hanya bisa memberikan mu kasihku, cintaku, bukan keinginanku ataupun paksaan yang aku berikan kepadamu untuk menjadi seperti yang aku mau.

 

Membaca puisi itu aku harus ikhlas untuk melepasmu pada kehidupan yang akan engkau pilih, pada kehidupan yang akan engkau hadapi di masa yang akan datang, meskipun aku tak tahu apa yang akan terjadi padamu nanti. Aku tak akan ikhlas melihatmu menderita akan pilihan yang engkau telah pilih nanti. Tapi asalkan engkau tahu anakku, aku akan selalu cemas, gundah jika jalan yang akan engkau pilih itu tidak baik. Karena itu aku akan membimbingmu, mengarahkanmu hingga kaupun sadar betapa berartinya bimbinganku untuk kehidupanmu di masa datang. Tapi aku akan berjanji padamu aku akan secara halus hingga kau tak merasakannya kalau aku membimbingmu ke jalan yang baik sehingga engkau tidak merasakan bahwa aku menginginkanmu mendapatkan yang terbaik untuk kehidupanmu di masa datang.  Asalkan kau tau anakku aku melakukan ini karena aku mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri.

 

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Children

Oktober 27, 2008 · & Komentar

Foto bareng

Foto bareng

[caption id="attachment_82" align="alignleft" width="128" caption="Main Ayunan"]Main Ayunan[/caption]
Foto Bareng

Foto Bareng

[caption id="attachment_79" align="alignnone" width="72" caption="Popeye"]Popeye[/caption]
TMII

TMII

→ 2 CommentsKategori: Cerita dalam foto

Let’s Pictures say (Idul Fitri 1429 H)

Oktober 24, 2008 · 1 Komentar

Idul Fitri 1429 H di rumah Nenek

Idul Fitri 1429 H di rumah Nenek

Aku sengaja memasukan semua gambar2 ini karena aku memang belum sempat untuk menuliskan satu persatu semua kejadian yang ada di gambar tersebut, jadi biarlah gambar-gambar itu yang akan menjelaskannya sendiri, karena sayang jika tidak didokumetasikan saat-saat yang sangat momentum yang belum tentu dapat kita lewati lagi moment tersebut apalagi mengalami hal yang sama persis, jadi aku hanya dapat mengingat dan mengenangnya.

→ 1 CommentKategori: Cerita keluarga

Idiopathic thrombocytopenic purpura

Agustus 11, 2008 · & Komentar

Suamiku dan ketiga anakku, Rio, Ragil dan Dio

Suamiku dan ketiga anakku, Rio, Ragil dan Dio

Baru hari ini aku sempat untuk melanjutkan kembali tulisanku tentang ITP ini, selain tidak punya waktu yang banyak untuk nulis rasa malas juga turut mempengaruhi.

Sejak divonis menderita ITP suami jadi sangat berhati-hati untuk melakukan kegiatan apapun untuk makanpun suamiku selalu wanti2 agar tidak telat jadwal makannya dan jadwal minum obatnya dan alhasil suamiku dalam waktu yang singkat menjadi sangat gemuk dengan wajah yang bulat seperti bulan (moon face) persis yang dijelaskan oleh dokter. Selain wajahnya yang makin bulat, kulit suamiku pun sedikit demi sedikit penuh dengan jerawat di sana- sini, diikuti dengan timbulnya jamur di sekitar wilayah yang lembab seperti belakang telinga, punggung, jidat dll.

Waktu kontrol dua minggu sekali ke rumah sakit pondok indah sungguh hal yang sangat memberatkan buat kami selain biaya kontrol yang mahal ongkos pulang pergi dari rumah ke RS pun lumayan, belum lagi suamiku harus cek trombosit dan leukosit setiap kali akan kontrol dan setiap kontrolpun kami perlu makan malam di luar dikarenakan jadwal dokter Noerwati di RSPI malam hari dari pukul 7.00 – 10 malam. Alhalsil dalam satu bulan bisa menghabiskan uang 1 juta rupiah. Mungkin hal yang memberatkan ini bisa menjadi ringan kalau saja suamiku mendapat uang penggatian berobat dari kantornya, namun sayang hal itu tidak ada di kantor suamiku.

Pernah suatu waktu dr. Noerwati bertanya kepada suamiku, apakah mau dibuatkan kuitansi penggantian untuk kantor, dengan tersenyum lebar suami menjawab, ndak perlu dok, karena ndak ada yang gantiin juga. Dengan spontan dr. Noerwati menjawab, loh gimana toh, le, kamu mesti berjuang dong untuk minta diganti uang berobat kamu ke kantor. Masa orang kerja ndak ada uang penggatian biaya berobat. Dengan logat Jawa pula suamiku menjawab, ndak lah dok, isin aku. Ya wis Son kata dr. Noerwati, kamu nanti kalau mau berobat sms aja dulu ke saya. Atau kamu ngak perlu ke rumah sakit cukup sms aja jumlah trombosit dan leukositmu ke saya biar konsultasinya per sms atau per telpon biar lebih murah. Atau kamu berobat aja ke Darmais ya tempat saya dinas tiap pagi. Di sana lebih murah disbanding RSPI.

Sejak saat itu suamiku selalu memberikan laporan kepada dr. Noerwati melalui telp ataupun sms dan kalau dalam keadaan yang sangat kuatir karena kondisi tubuh yang tak menentu alias lelah yang sangat berkepanjangan ataupun pendarahan di dubur entah karena ambeinnya yang kambuh atau memang karena trombositnya yang drop, biasanya dr. Noerwati selalu mengajak ketemuan di UGD di sana kami melakukan konsultasi di meja informasi, di situ dr. Noerwati akan memberikan resep obat tanpa mencharge sepesrpun kepada kami, dan hal ini yang membuat para suster yang tugas saat itu terbengong-bengong. Dengan santai dr.Noerwati memberitahu kepada mereka, itu ponakanku.

Genap 1 tahun suamiku menderita ITP, suatu hari suami terserang gejala demam berdarah, awalnya seperti biasanya penderita demam berdarh sipenderita selalu mengalami panas tinggi dan demam atau menggigil ketika obat yang diminumnya telah habis masa kerjanya. Akhirnya kamipun memutuskan untuk kontrol ke dokter terdekat dengan hasil test widal yang positif dokter menyarankan aku untuk membawa suamiku di rawat inap. Kamipun membawa suami ke RSPI dan di sana suamiku dirawat pertama kali di ruang UGD dengan diberi panadol dan cairan infus panas suhu tubuh suamiku lama kelamaan berkurang yang ada suamiku mengalami kedinginan akibat ruangan UGD yang ber AC. Tak lama kemudian suamiku mendapat kamar di kamar yang sama ketika suamiku dirawat pertama kali di RSPI ketika dia divonis menderita ITP. Karena masih setahun perawat-perawat di kamar kelas tigapun juga belum banyak yang berubah dan kebanyakan dari mereka masih mengenal wajah suamiku.

Namun kali ini suamiku tidak lagi dipegang oleh dr, Noerwati ataupun dr, Aulia yang pertama kali menangani suamiku, dikarena kedua dokter tersebut sedang menjalani umroh akhirnya kami ditawari seorang dr. Penyakit dalam yaitu dr. Leo. Hal yang kami kuatiri jika tidak dipegang oleh dr. Selain dr. Neorwati dan Aulia terjadi, dimana dr. Leo yang tidak mengetahui riwayat penyakit suamiku tidak begitu aware dengan penjelasan yang kami berikan, bahwa suamiku adalah penderita ITP, dimana jumlah trombositnya tidak seperti orang normal yang melebihi angka 150 ribu, sementara trombosit suamiku paling tinggi hanya 80 ribu dan posisi drop 10 ribu.

Satu sampai dua hari suamiku mendapat infus kondisinya semakin membaik, namun karena suamiku ITP maka treatment penderita demam berdarah jadi tidak akan berlaku buat suamiku. Jika penderita demam berdarah hanya diberi cairan saja trombositnya lama kelamaan akan meningkat sementara beda dengan suamiku yang menderita ITP meskipun infus habis berbotol-botol trombositnya tidak akan mengalami kenaikan yang berarti, kami akhirnya mencoba untuk aktif memberitahukan kepada pihak rumah sakit bahwa kami perlu seorang ahli penyakit tropikal (yang dimaksud di sini adalah ahli dalam penyakit di daerah tropikal seperti Indonesia, yaitu demam berdarah, malaria dll) kami coba konsultasi dengan dr. tersebut. Aku lupa nama dr. tersebut. Karena dr. Tersebut paham akan penyakit yang diderita oleh suamiku maka dr. Tersebut memberikan suamiku suntikan prednison untuk menaikan trombosit suamiku. Dan hasilnya tombosit suamiku naik menjadi 200 ribuan dan esokan harinya ketika dr. Leo berkunjung melihat hasil trombosit suamiku aku dan suami meminta dr. Untuk mengijinkan suamiku pulang.

Masih mengenai penyakit ITP suamiku, setelah keluar dari rumah sakit akibat demam berdarah kami bertemu dengan salah satu teman di kantor suamiku yang juga teman saat aku masih bekerja di kantor trading tempat aku bekerja dulu. Dia seorang mantan pilot berkebangsaan Prancis yang berdarah Manado, Mr. Paul Najoan, beliau memperkenalkan kepada kami pengobatan tusuk jarum dan menurutnya pengobatan itu sangat ampuh dan cocok buat kakaknya yang menjalani pengobatan itu namun sebaliknya bagi dia tusuk jarum itu sangat tidak mengenakan sehingga dia tidak mau melakukan pengobatan itu lagi. Kamipun tertarik untuk melakukan terapi tusuk jarum tersebut. Terapi itu dia lakukan seminggu dua kali sehingga dia harus ijin datang siang ke kantor setiap hari Rabu sementara hari Sabtu berhubung suamiku libur maka tidak perlu ijin. Meskipun terhitung mahal untuk biaya tusuk jarum pada waktu itu sekitar Rp 50.000 setiap kali tusuk dan setiap helai jarum suamiku harus membayar 1000 rupiah yang kemudian akan dipakai lagi ketika terapi kembali.

Merasa cocok dengan terapi tusuk jarum suamiku juga kelihatan ada kemajuan, dia tidak lagi lesu tapi sekarang malah setiap pagi selalu melakukan jalan pagi selama 1 jam untuk melatih daya tahan tubuhnya. Selanjutnya suamiku malah berencana untuk memulai kehidupannya seperti orang normal kembali, dia tidak lagi mau terkungkung dengan penyakitnya dan diapun memutuskan untuk melepaskan ketergantungannya dengan obat untuk bisa mengurangi efek samping dari prednison yang sudah di konsumsinya hampir 2 tahun.

Meskipun suamiku menjalankan terapi tusuk jarum dia masih tetap rutin mengecek jumlah trombosit dan leukosit untuk dilaporkan kepada dr. Noerwati dan hingga satu saat suamiku menginformasikan kepada dr. Noerwati bahwa dia telah lepas dari obat dewa, prednison dan syukur alhamdullilah dengan trombosit rendah sampai dengan 35,000 – 50,000 suami  tidak pernah mengalami pendarahan, sehingga dr. Noerwati berani mengatakan bahwa suamiku dinyatakan telah sembuh.  Namunpun demikian dr. Noerwati tetap menyarakan suamiku untuk jangan lupa mengontrol jumlah trombositnya agar tidak sampai kecolongan alias drop hingga titik terendah yang dapat menyebabkan pendaran dimana-mana.

Alhamdullilah suamiku sekarang meskipun masih menyandang penderita ITP dengan jumlah tombosit tidak lebih dari 80 ribu dia sudah dapat hidup seperti orang normal, bisa kembali bersepedah motor mengantarkan aku pergi ke kantor, bolak-balik dengan motor untuk pekerjaan-pekerjaannya.  Meskipun ada satu masa ketika trombositnya drop sampai 30 ribu, suamiku tetap merasakan nyeri-nyeri pada persendian, jamur yang selalu menyerang saat situasi ini datang dan merasakan kelelahan yang amat sangat, tapi paling tidak suamiku telah mampu menjadikan penyakitnya sebagai teman setianya yang ketika datang dia harus dengan setia menghadapinya.

Dan akupun sebagai seorang istri merasa bersyukur dapat melalui masa-masa sulit selama 4 tahun bersama suami dan anakku. Dan saatnya buat kami menikmati masa-masa kini dengan kebersamaan, keceriaan dan keikhlasan, seperti ilmu yang saat ini sedang kami pelajari.

→ 31 CommentsKategori: Cerita keluarga

RADANG TENGGOROKAN

Agustus 8, 2008 · 1 Komentar

Pernah pusing kepala karena anak kita demam, lesu, tidak mau makan, dan mengeluh sakit waktu menelan? Apalagi gejalanya ditambah dengan rewel, hidung mampet atau justru tidak berhenti meler, dan nyeri di telinganya! Rasanya ingin ada obat ajaib yang bisa membuat anak sembuh dalam sekejap. Simsalabim! Wah tunggu dulu…

Mungkin hampir seluruh orang tua pernah pergi ke dokter dan anaknya didiagnosis radang tenggorokan dengan gejala tersebut diatas. Mungkin kemudian kita pulang dengan sederet obat atau. mungkin juga tidak. ]adi sebenarnya, apa sin yang periu kita waspadai tentang radang tenggorokan yang terkenal ini?

Sekelumit Fakta Tentangnya…
Anak bisa sangat sering terserang infeksi saluran napas atas, termasuk radang tenggorokan dan ternyata sekitar 90% dari kasus radang tenggorokan yang disertai hidung berair, demam, dan nyeri telinga disebabkan oleh virus! Bakteri menjadi penyebab dari 10% kasus sisanya. Karena hampir seluruh kasus disebabkan oleh virus, maka antibiotik biasanya tidak diperlukan. Infeksi oleh virus (misalnya: batuk-pilek, radang tenggorokan) sama sekali tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik. Infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya, tubuh akan melawan dengan sistem kekebalan tubuh. Penggunaan antibiotik yang berlebihan justru akan merugikan karena akan membuat anak menjadi resisten dan antibiotik menjadi tidak mempan untuk melawan infeksi saat dibutuhkan. Jadi, mari kita simpan antibiotik ini untuk “perang” yang lebih hebat bila diperlukan. Save the best for last, istilahnya.]

Pada 10% kasus sisanya bakteri penyebab radang tenggorokan tersering adalah Streptokokus. Gejala infeksi bakteri ini adalah tenggorokan yang berwarna merah daging dan tonsil yang mengeluarkan cairan. Untuk mendiagnosis bakteri ini sebagai penyebab secara past! adalah dengan melakukan usap tenggorok untuk kemudian dikultur serta dilakukan pemeriksaan darah. Hanya untuk kasus yang disebabkan bakteri saja antibiotik diperlukan.

Bila anak menjadi gelisah, rewel, sulit tidur, lemah, atau lesu karena gejala radang tenggorokan ini, kita dapat membantu meredakan gejalanya. Tidak harus selalu dengan obat, mungkin dengan tindakan yang mudah dan sederhana bisa membantu menenangkan anak:

Nyeri menelan: banyak minum air hangat, obat kumur, lozenges, parasetamol untuk meredakan nyeri.

Demam : banyak minum, parasetamol, kompres hangat atau seka tubuh dengan air hangat.
Hidung tersumbat dan berair (meler): banyak minum hangat, anak diuap dengan baskom air hangat, tetes hidung NaCI.

]angan terlalu cemas bila anak tidak langsung sembuh dalam 1 atau 2 hari, karena dalam beberapa kasus, radang tenggorokan karena virus baru sembuh setelah 2 minggu. Yang diperlukan adalah kesabaran dan pengawasan orang tua terhadap gejala anak. Bawalah anak ke dokter bila gejala terlihat makin berat; anak tampak sulit bernapas, kebiruan pada bibir dan/atau kuku, anak tampak gelisah atau justru sangat mengantuk, atau anak batuk/demam berkepanjangan.

Selamat menjadi Smart Parent!

→ 1 CommentKategori: Pengetahuan